MEMBANGUN PERSAUDARAAN SEJATI YANG INGKLUSIF DAN HARMONIS DIKALANGAN MAHASISWA LINTAS AGAMA PDF Cetak E-mail

MEMBANGUN PERSAUDARAAN SEJATI YANG INGKLUSIF DAN HARMONIS DIKALANGAN MAHASISWA LINTAS AGAMA

Oleh:

Drs. AA G Oka Wisnumurti, M.Si

A. Pendahuluan

Teks tentang membangun persaudaraan sejati yang inklusif dan harmonis dikalangan mahasiswa lintas agama menjadi materi yang menarik diperbincangkan, ditengah-tengah kerisauan tentang masa depan ”rasa persaudaraan” yang semakin pudar dan tereduksi oleh  pemaknaan rasional instrumental. Lebih-lebih dialog ini digagas dan dilakukan oleh para tokoh lintas agama. Tentu ada kerisauan yang amat dalam yang terlintas pada rasa, pikiran dan sensitifitas keagaamaan, sehingga perlu memprtemukan kita dalam forum dialog ini.

Ada pusparagam makna  yang terkandung dibalik teks yang multi-intepretatif.

(1) Ada rasa, bahwa persaudaraan yang sejati yang inklusif dan harmonis dikalangan mahasiswa lintas agama sudah sangat baik dan kokoh terbangun, sehingga perlu dipertahankan; (2) Ada rasa, bahwa persaudaraan yang sejati yang inklusif dan harmonis dikalangan mahasiswa lintas agama sudah terbangun, perlu ditingkatkan; (3) Ada rasa, bahwa persaudaraan yang sejati yang inklusif dan harmonis dikalangan mahasiswa lintas agama sedang terbangun, perlu dibangun (4) Ada rasa, bahwa, persaudaraan yang sejati yang inklusif dan harmonis dikalangan mahasiswa lintas agama belum terbangun, perlu ditingkatkan; (4) Ada rasa, bahwa persaudaraan yang sejati yang inklusif dan harmonis dikalangan mahasiswa lintas agama tidak terbangun, perlu dibangun.

Apapun intepretasi yang diberikan, persaudaraan yang sejati dan inklusif dan harmonis itu adalah persoalan rasa, sebagai rasio subjektif dan tindakan komunikatif diantara ”kita”. Rasa dan rasio subjektif ini akan hadir bersama-sama ditengah masyarakat yang bebas dari kecurigaan, bebas dari rasa takut, bebas dari intrik-intrik, bebas dari kepentingan tersembunya dan bebas dari kepicikan. Pembebasan atas semuanya itu  perlu terurus dikumandangan, dibangun dan dikembangkan dikalangan mahasiswa lintas agama. Mahasiswa sebagai kaum itelektual, penerus kepemimpinan dan pewaris sah bangsa ini diharapkan memiliki sensitifitas multicultural sebagai jati diri bangsa yang berbineka tunggal ika.

Belakangan, nilai-nilai multicultural, penghargaan atas perbedaan, sikap saling curiga, menguatnya etno-nasionalism kerap mereduksi kehidupan kebersamaan dan rasa kekeluargaan diantara anak bangsa. Pancasila sebagai ideologi bangsa mengalami kekeringan makna ditengah kedahagaan anak bangsa akan alat perekat kebersamaan. Agama yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan,  keadilan, pembelaan terhadap yang lemah serta memberikan kemaslahatan umat, kerap ”diselewengkan”, cendrung dipahamai secara sempit hanya untuk mengus yang ”di atas”, tidak yang disamping, apalagi yang dibawah. ”Agama” sering menjadi alat kekuasaan, alat pemisah adri manusia dan menjadikan dirinya yang lain, yang membedakan antara ”aku”, ”mereka”, dan ”kita”.

Bicara persaudaraan, mestinya dibicaranakn juga permusuhan. Bicara perdamaian mesti dilihat dari sisi konflik. Bicara kebersamaan kesendririan dan keterasingan. Bicara ke-sejati-an, tentu dapat dilihat dari ke-semu-an. Cara berpikir oposisi biner, menjadi ciri khas mahasiswa, sebagai kelompok kritis yang selalu melihat diri dan sekitarnya sebagai sesuatu yang harus didekonstruksi dan sekaligus dikonstruksi. Makalah singkat ini melihat tema tersebut dari sisi yang lain, sis yang binary oposition, dalam menemukan ”rasa” yang hilang, untuk dirajut kembali dengan ”rasa”.

 

B. Konflik sebagai Pendorong Kesadaran Persaudaraan.

Konflik sering ditempatkan sebagai teks yang menakutkan, dihindari dan bahkan tidak boleh muncul dalam wacana dialog lintas agama seperti ini. Padahal secara sosiologis, konflik dan konsensus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sisi kehidupan manusia bermasyarakat. Konflik merupakan aspek interinsik kehidupan yang takmungkin dihindari dalam perubahan sosial. Menurut Hugh Miall (2000) Merupakan ekspresi heterogenitas kepentingan, nilai dan keyakinan yang muncul sebagai formasi baru yang ditimbulkan oleh perubahan sosial yang muncul bertentangan dengan hambatan yang diwariskan. Sebagai  manifestasi lebih lanjut dari ketidaksamaan. Manusia itu mahluk yang berkepala. Berbulu, berambut, tetapi berhati. Hati tidak dapat diidentifikasi dengan simbolisasi seperti rambut dan sebagainya.  Begitulah manusia bergerak dengan makna simbolic yang dikendalikan dengan hati.

Intensitas konflik akan sangat dipengaruhi oleh kompleksitas kepentingan, nilai dan keyakinan yang berkembang dalam pergerakan ruang dan waktu. Pada masa lalu  ketika manusia tunduk pada kekuatan alam maka konflik menusia dihadapkan pada perjuangan hidup melawan seleksi alam. Charles Darwin pada abad 19 menujukan fenomena lingkup organisme dalam sebuah “survival of the fittest”, hanya mereka yang lolos dari seleksi alam yang dapat mempertahankan hidupnya. Maka setiap mahluk hidup lebih-lebih manusia akan melakukan “struggle for life”, berjuangan mempertahankan hidup (Mudji Sutrisno. 2001). Memasuki revolusi industri wajah konflik lebih diwarnai oleh pertentangan kelas atara kapitalis dan proletar. Di era informasi dan komunikasi saat ini secara tidak disadari disekitar kita penuh duri dan ranjau dan ketika kita lengah akan terperangkap kedalam kubangan konflik yang tanpa tepi. Kekerasan simbolik (simbolic vilence)  baik dalam bentuk ide, gagasan, pemikran, maupun secara kasat mata dalam bentuk tindakan refresif  menjadi bagian kehidupan keseharian.

Faktor penyebab terjadinya konflik sangat beragam. Menurut Davis, karena adanya jurang pemisah antara harapan dan kenyataan. Sedangkan  menurut Robert Gurr karena “Relative Deprivation” terjadinya kesenjangan antara “nilai yang diharapkan” dan “nilai kapabilitas”, baik yang bersifat decremental deprevation (nilai yang diharapkan stabil sementara nilai kapabilitas menurun), aspiration deprivation (nilai yang diharapkan  naik, nilai kapabilitas statis), maupun progresive deprivation (kedua nilai sama-sama naik namun pada saat tertentu nilai kapabilitas statis bahkan cendrung turun) (dalam Haryanto, 1990). Sedangkan menurut  Duverger, karena;   (1)  sebab-sebab  individu;  hal ini terjadi  berkaitan dengan bakat alamiah yang ada pada diri manusia, kecendrungan ini dapat dipahami melalui pandangan Carles Darwin “surviveal of the vittes”.  (2) sebab-sebab kolektif, adanya kesenjangan struktural dalam kehidupan masyarakat baik yang disebabkan oleh faktor sosial, ekonomi dan politik. Adanya ketidak setraraan, ketidak adilan dan eksploitasi antara satu dengan yang lainnya.

Sebagai aspek intrinsik yang ada dalam kehidupan manusia, konflik dapat dimanfaatkan sebagai motivasi bagi setiap insan dalam membangun jalinan kerjasama antara satu dengan yang lain, persamaan itu terjadi karena perbedaan. Ketika semuanya sama maka perbedaan takkan tampak. Perbedaan akan memperkaya khasanah ruang pribadi dan ruang sosial dalam pembangunan peradaban. Disinilah sesungguhnya rasa persaudaraan dan harmonisasi itu terbangun, apabila berbagai perbedaan yang ada menjadi orkestra simponi yang indah untuk didengarkan. Dengan menggunakan energi positif dari kekuatan konflik, persaudaraan akan terbangun, rasa akan terlahir untuk menjadikan yang lain itu penting bagi keberadaan kita dan kitapun penting bagi keberadaan yang lain.

 

C.  Membangun Persaudaraan Sejati  yang Inklusif dan Harmonis

Albert Camus, menggambarkan hidup penuh konflik seperti mitos Yunani Le Mythe de Sisyphe,  kegigihan Sisyphus yang terus menerus mendorong batu kepuncak gunung dengan tersenyum dan habis-habisan, setiap kali batu itu didorong, menggelinding lagi ke bawah. Sampai akhirnya dapat membawa kepuncak. Analogi perjuangan Sisyphus, merupakan suatu upaya yang dilakukan secara tulus, gigih dan tanpa henti untuk memenaj kehidupan yang penuh konflik untuk mewujudkan perdamaian.

Mengikuti cara kerja Albert Camus, para tokoh agama, dan mahasiswa lintas agama mulai saat ini dan sekarang, harus menjadi pioner dalam membangun kesadaran bersama (commond goods) baik secara individu maupun kolektif.

Secara individual, masing-masing harus memiliki kesadaran bahwa ada perbedaan diantara kita. Kesadaran bahwa kita beda, lalu diteruskan melalui dialog lewat kohesi sosial untuk bisa saling memberi dan saling menerima dalam kesetaraan. Lewat kesadaran individual masing-masing kita mencoba untuk mencari dan merumuskan kesepakatan-kesepakatan sosial tanpa harus kehilangan jati diri, karakteristik masing-masing. Ego dan super ego untuk selalu berkuasa akan terakomudasi melalui kesepakatan sosial yang terbangun dalam bentuk commond goods.

Secara kolektif, secara terus menerus membangun komitment  persatuan dan kesatuan dan persaudaraan dengan menumbuhkan rasa csaling percaya, rasa memiliki dan rasa kita adalah bersaudara, sehingga tidak ada dusta diantara kita. Merevitalisasi nilai kearifan lokal masih relavan untuk dikembangkan. Seperti segilik, seguluk, selunglung sebayan taka, paras paros sarpanaya menyama braya sebagai symbol kehidupan bersama sebagai satu kesatuan keluarga; membangun kohesi sosial, solideritas sosial, kepedulian sosial dan interkasi sosial yang intens, hal ini penting dilakukan untuk menghindari tumbuhnya sikap individulistis dan eklusivisme dikalangan kelompok-kelompok sosial.

Melalui tindakan komunikatif dengan bersandar pada rasio subjektif, disamping akan menggugah ruang dialog, bersamaan dengan itu akan terbangun rasa saling kesepahaman, saling mengerti akan keberadaan kita masing-masing. Keberadaan akan berada, apabila ada ditengah-tengah keberadaan yang ada. Jadilah kita ada ditengah keberadaan itu, dan jadikan keberadaan itu menjadikan kita ada bersama-sama. Membangun ”rumah” bersama sebagai wahana komunikasi, interaksi diantara kita menjadi penting dikembangkan. Oleh karena, tidak ada seindah hidup berdampingan secara damai. Tatwamasi, aku adalah kamu dan kamu adalah aku itulah persaudaraan sejati dan harmonis yang patut terus dikumandangkan.

 

REFERENSI

Duverger Maurice, 1981, Sosiologi Politik, Rajawali, Jakarta.

Haryanto, 1990, Elit, Massa, dan Konflik, PAU-Studi Sosial, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Miall, Hugh Dkk, 2000, Resolusi Damai Konflik Kontemporer, Rajawali Press, Jakarta.

Nasikun, 1974, Sebuah Pendekatan Untuk Mempelajari Sistem Sosial Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sutrisno, Mudji, 2001, Humanisme, Krisis, Humanisasi Penerbit Obor, Jakarta.